Refleksi dan Agenda Umat Islam

Oleh: Muh. Ghufron Mustaqim

Pengamat Perkembangan Peradaban Islam


Prolog

Kemajuan peradaban umat Islam adalah satu hal yang kita inginkan bersama. Tetapi tampaknya, kita harus berani melihat dengan jujur akan kekurangan-kekurangan umat Islam yang menyebabkan peradaban Islam tak berdaya jika dibandingkan dengan peradaban lain, sebut saja peradaban Barat. Tentunya ini bukan karena agama Islamnya yang salah, tetapi karena pemeluknya yang tidak mau mengamalkan ajaran Islam seluruhnya. Yang akhirnya malah diamalkan oleh orang lain—orang Barat.

Misalnya saja yang kita lihat di Indonesia. Umat Islam yang jumlahnya mayoritas hampir identik dengan “kaum pinggiran” alias miskin. Padahal Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi orang kaya dan zuhud. Islam juga mengajarkan agar kehidupan akhirat diraih dengan dunia (harta benda). Kemiskinan yang melanda umat Islam ini, disebabkan minimnya penguasaan ilmu pengetahuan. Budaya baca yang menjadi kunci penguasaan ilmu pengetahuan mulai sudah hilang dari kaum Muslim.

Secara global pemeluk Islam hampir seperempat penduduk dunia yaitu 22%, tetapi sumbangan dunia Islam terhadap perekonomian global hanyalah 5%. Lain halnya dengan laporan majalah Forbes yang melaporkan bahwa dari 500 orang terkaya di dunia, baru satu orang dari umat Islam. Inilah satu indikasi bahwa umat Islam mengalami keterpurukan, setidaknya dari segi ekonomi.

Keterpurukan mulai melanda umat Islam dalam beberapa abad terakhir karena ada sesuatu yang diabaikan oleh umat Islam, yaitu tidak bersungguh-sungguh dalam belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Kalau kita amati dengan seksama, kita akan menemukan adanya perubahan dalam memahami hakikat ajaran Islam. Sebagai contoh, perhatian yang begitu besar terhadap kehidupan akhirat membuat umat Islam enggan untuk lebih kreatif di dunia, hanya menyibukkan diri dengan berzikir. Padahal Islam tidak mengajarkan meninggalkan kehidupan dunia demi kehidupan akhirat. Begitu juga sebaliknya, meninggal kehidupan akhirat demi kehidupan dunia. Islam mengajarkan umatnya untuk membangun keseimbangan di antara dua dunia. Artinya, umat Islam harus mengejar kebahagian dunia dan akhirat. Oleh karena itu, konsep tawadhu dan zuhud dijadikan penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat. Kita perlu mencari solusi bagaimana menghilangkan pandangan-pandangan yang menyimpang dari pemahaman ajaran Islam yang benar ini. Tanpa menghilangkan pemahaman yang salah ini, umat Islam tidak akan pernah maju. Mereka akan selalu menjadi penonton. Memberi pemahaman yang benar ini adalah tugas kita semua.

Kita lihat saja kehidupan umat Islam pada zaman Rasulullah. Sebagian besar mereka kaya, tapi orientasi hidupnya tidak melulu tertuju pada menumpuk kekayaan. Harta mereka jadikan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai tujuan hidup. Jabatan, mereka jadikan alat pengabdian kepada Allah. Misalnya dengan membuat keputusan yang terbaik dan menguntung umat, Sikap hidup inilah yang menyebabkan Nabi dan para sahabat sukses membuat Islam kuat dan menarik perhatian masyarakat banyak. Tetapi ada satu hal yang ditakutkan oleh Nabi Muhammad Saw, yaitu umat Islam seperti anjing yang rakus tidak peduli dengan kaum lemah dan akhirnya mereka lupa beribadah kepada Tuhan serta menjadikan umat yang tidak pandai mensyukuri nikmat Allah. Ketakutan akan hal ini membuat para sufi memahami zuhud dengan sangat ekstrem; menjauhi urusan dunia sama sekali.

Paham zuhud muncul karena banyak orang-orang kaya yang terlena dengan kekayaannya sehingga mereka melupakan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah. Ini bukan berarti setiap orang kaya akan terjerumus dalam kemaksiatan dan melupakan tugasnya sebagai seorang hamba Allah. Konsep zuhud adalah pengekang dan pengingat agar manusia tidak melupakan kewajibannya terhadap Allah dan manusia lainnya. Memang kekayaan dapat menjerumuskan seseorang. Nah, di sinilah peran penting zuhud sebagai rem. Tidak hanya kekayaan yang menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan, kemiskinan juga bisa menjerumuskan manusia. Ingat sabda Nabi yang mengatakan bahwa “kadang-kadang kemiskinan membawa kekufuran”. Antara kemiskinan dan kekayaan sama-sama mempunyai sisi negatif.

Ada beberapa hal yang hanya dapat dikerjakan orang kaya, tapi tidak bisa dikerjakan oleh miskin. Contohnya, orang-orang miskin sering bangga dengan zikir yang telah dilakukannya siang dan malam, kemudian orang miskin juga sering bangga dengan salat malam yang telah dikerjakannya. Dalam hal ini orang-orang kaya juga dapat melakukan apa-apa yang telah dikerjakan oleh miskin, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang miskin yaitu masalah zakat, infaq dan sedekah. Lalu kenapa kita takut kaya jika yang dikerjakan orang miskin bisa dikerjakan orang kaya, tapi tidak sebaliknya.

Paradigma Umat Islam

Alasan yang sering digunakan sebagai dalih untuk tidak maju adalah, “Allah sengaja memberikan kesenangan dunia kepada mereka—non muslim, sebab jika mereka terus kafir, maka mereka akan dibalas di neraka. Sebenarnya bagus juga kalau kita tidak terlalu pandai atau kaya, karena kita bisa terlena dunia nantinya. Allah tidak membagi semua kesenangan di dunia, sebab kita sebagai orang Muslim akan mendapatkan balasannya di akhirat. Jadi jangan kecewa kalau gagal. Kalau Allah tidak memberikan sekarang, Insya Allah balasannya di surga.” Pemikiran seperti inilah yang menyebabkan umat Islam semakin mundur. Harusnya umat Islam mampu menggapai kejayaan di dunia dan di akhirat juga. Harusnya kita berkata “Orang kafir pandai, kaya raya sebab mereka berusaha bersungguh-sungguh. Allah berkata, siapa yang berusaha maka akan berhasil. Tetapi Allah tidak sayang orang kaya. Allah sayang orang yang baik. Makanya kalau mau disayang Allah, jadilah orang baik. Kalau mau lebih disayang Allah, jadilah orang baik dan kaya sekaligus, supaya bisa menolong orang lain juga.” Yang terakhir inilah paradigma yang perlu kita bangun.

Ada hal menarik dari fenomena umat Islam, “Kebanyakan orang Islam mengimani dan menginginkan akhirat, sehingga mereka tidak bersungguh-sungguh memakmurkan dunia. Apabila mereka mengimani Tuhan, mereka tidak bersungguh-sungguh berbuat baik kepada manusia.” Hal ini bisa kita contohkan dengan bagaimana umat Islam kurang peduli dengan lingkungan dan kebersihan. Karena bagi sebagian kita, itu bukan hal penting.

Hubungan Peradaban Islam dengan Barat

Selanjutnya, hal yang juga perlu diketahui adalah, bagaimana sebenarnya hubungan antara Peradaban Islam dengan Peradaban Barat. Ini penting kaitannya dengan sebab-sebab kemunduran peradaban Islam.

Naquib Al-Attas, seorang pemikir Islam kelahiran Bogor Jawa Barat mengungkapkan, bahwa antara peradaban Barat dan peradaban Islam akan terjadi apa yang ia sebut sebagai satu “permanent confrontation” (konfrontasi permanen). Bahwa konfrontasi antara peradaban Barat dengan Islam telah bergerak dari level sejarah keagamaan dan militer ke level intelektual; dan bahwasanya, konfrontasi itu secara histories bersifat permanent. Islam dipandang Barat sebagai tantangan terhadap prinsip yang paling asasi dari pandangan hidup Barat. Islam bukan hanya tantangan bagi Kekristenan Barat tetapi juga prinsip-prinsip Aristotellianisme dan epistemologi serta dasar-dasar filosofi yang diwarisi dari pemikiran Greek-Romawi. Karena itulah, orang-orang Barat berupaya meruntuhkan Islam dengan menyerang pemikiran-pemikiran murni Islam. Pada saat ini, Barat telah berhasil memenangkan perang media; mempropagandakan dan memprovokasi perpecahan umat Islam. Walaupun demikian, Barat tidak bisa memenangkan sepenuhnya pemikiran Islam. Even if they’ve won the battle of media, they couldn’t win the battle of thoughts.

Aksi Kita

Menurut statistik Rabithah al ‘alam al-Islami (Liga Islam Dunia) secara global pemeluk Islam di dunia sekarang ini sekitar 1,3 milyar. Islam menjadi agama terbesar di dunia ini semenjak agama Katolik dan Protestan berpisah, maka masing-masing mencapai 1,2 milyar. Dan ada gejala peningkatan yang cukup signifikan bahwa Islam semakin diminati di negara-negara yang mayoritas bukan Islam, seperti Amerika, Eropa dan Australia. Ini adalah modal besar yang sangat berharga bagi peradaban Islam untuk kembali mengukirkan tinta emas.

Kita telah melihat kelemahan-kelemahan umat Islam–keterpurukannya. Tiada jalan lain kecuali harus bangkit, memperkuat barisan, melakukan konsolidasi diri terhadap tantangan dan ancaman yang ada di depan mata. Kita tidak boleh menghadapi semua itu dengan kesedihan dan kehilangan kepercayaan diri. Allah SWT manyatakan dalam Al Quran surat Ali Imran 139 yang maknanya: “Kamu wahai semua umat Islam jangan bersedih hati jangan kehilangan kepercayaan diri, karena sungguh kamu adalah umat pilihan yang memiliki kekuatan dan kelebihan jika kamu semua menjadi orang-orang yang beriman”. Inilah bekal dari Al Quran agar umat Islam jangan kehilangan kepercayaan diri. Jangan berlarut-larut dalam duka dan nestapa, jangan berlarut-larut dalam kesedihan.

Surat Al Anfal 60 yang maknanya: “Persiapkanlah segala daya, persiapkanlah segala upaya, rancang strategi, rapatkan barisan, untuk menghadapi segala tantangan yang ada di hadapan kita.”. Kita harus melakukan langkah-langkah kongkrit, harus melakukan langkah-langkah nyata, harus mempersiapkan diri dengan strategi perjuangan yang jelas dan jitu.

Epilog

Dunia ini berputar, kadang kita berada di atas dan kadang pula kita berada di bawah. Kadang peradaban Islam maju, dan kadang peradaban lain yang maju, seperti yang telah diterangkan dalam firman Allah Swt, “…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) (QS Ali Imran [3]: 140). Tetapi yang perlu diingat adalah, tidak ada kemajuan tanpa perubahan, dan tidak ada perubahan tanpa usaha. Kitalah—umat Islam, determinan pokok maju-mundurnya peradaban Islam. Tidak ada kata tidak mungkin untuk membangkitkan peradaban Islam.

Di Indonesia, usia produktif antara 18-40 tahun adalah presentase yang tertinggi di dunia. Dari usia tersebut 88% beragama Islam. Jika mereka dapat bersatu-bekerjasama bangkit dan membenahi kelemahan umat Islam di Indonesia, maka hal ini akan berkontribusi banyak terhadap perkembangan peradaban Islam dunia. Ini adalah kekuatan besar yang sangat diperhitungkan dan bahkan ditakuti oleh Peradaban Barat.

Pada akhirnya, karena peradaban itu bukan hanya terletak pada sisi material (dzhiri), namun juga merangkum aspek-aspek spiritual, maka selain melaksanakan hal-hal positif yang sudah dipraktekkan oleh Peradaban Barat itu seperti kerja keras, disiplin waktu, dan rajin menuntut ilmu, tidak lupa kita harus menerapkan aqidah yang betul dan syariah Islam secara keseluruhan, jadilah kita umat yang terbaik di muka bumi seperti yang Allah janjikan.□

Referensi dan Bacaan

Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat. GIP Jakarta: Jakarta.

“Dengan Iptek, Umat Islam akan Kaya dan Maju” http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A1926_0_3_0_M

“Maju Mundurnya Umat Islam”, http://tribun-timur.com/view.php?id=110631&jenis=Opini

“Written by Prof. Dr. S.M. Naquib al-Attas” http://www.acehforum.or.id/written-prof-dr-t2971.html?s=24710155b9ff72fa8fe5d1113f539a7e&

Unrecognised Files

“Bagaimana Umat Islam Bisa Maju?” by wiemasen.

Mengapa Minder terhadap Barat? Adian Husaini,MA

Peradaban Barat Dan Timur.” Alfina Hidayah

“Saatnya Bangkit.”



© Caliphate Publication

The Writer has a Strong Contribution on Upholding Caliphate
for more information on copyright please refer to: http://www.alhikmah9.wordpress.com/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.