Bangga Menjadi Agen Ketidakjelasan
Muh. Ghufron Mustaqim , Majalah Sinar , Yogyakarta | Selasa, 18-11-08 20.00 WIB | Opini
Opini ini sebagai motivasi atas keresahan kita dengan adanya pernyataan-pernyataan yang muncul di tengah upaya kita untuk lebih rajin belajar. Kita awali dengan beberapa pernyataan yang sering muncul. Pertama, kalian tidak mempunyai kemampuan atau bakat. Kedua, tidak usahlah memiliki impian atau tujuan yang muluk-muluk. Ketiga, membaca tidak penting, yang penting bagaimana bersosialisasi. Keempat, kita perlu mengkritisi pemahaman kalian tentang motivasi belajar.
Untuk ini, kita perlu menganalisa dan membalikkan pernyataan-pernyataan tersebut diatas satu per satu.
Pertama, bakat adalah sesuatu yang tiba-tiba melekat pada diri kita ketika kita lahir. Bakat memang mempengaruhi kita dalam keahlian atau bidang tertentu. Tetapi masalahnya bakat perlu digali. Betapa banyak orang yang tidak tahu bakatnuya. Tanpa proses pencarian, bakat tidak akan pernah bisa ditemukan. Akhirnya bakatpun akan terpendam bersama lunturnya semangat untuk menggali. Pencarian bakat membutuhkan waktu. Daripada waktu habis untuk memikirkan apakah kita berbakat di bidang ini atau tidak, lebih baik kita menggunakannya untuk mempelajari bidang itu. Waktulah yang nanti akan membuktikannya.
Orang yang tidak berbakat, tidak mustahil menjadi ahli dalam bidang tertentu. Keahlian membutuhkan latihan dan ketekunan. Apa gunanya kita mempunyai bakat, tetapi kita sudah berbangga dan tidak berusaha mengembangkan keahlian kita? Dan kenapa kita sering berhenti melatih keahlian ketika kita di doktrin “Kamu tidak berbakat”?
Kedua, kegagalan pertama seseorang adalah ketika dia tidak berani untuk bermimpi. Bagaimana kita berani melakukan kalau untuk bermimpi saja kita takut. Bagaimana kita mampu melakukan, kalai bermimpi saja tidak mampu. “Bermimpilah! Karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” Siapa yang tidak kenal dengan pernyataan Andrea Hirata mengenai mimpi tersebut.
Hidup harus memiliki tujuan, mimpi adalah satu upaya pengekspresian tujuan.
Untuk menerangkan betapa prinsipnya tujuan, saya akan mengutip buku Alice in Wonderland yang ditulis oleh Lewis Carrol,
Suatu hari, Alice sampai pada persimpangan jalan dan melihat kucing Chechire berada di atas pohon. “Jalan mana yang harus kupilih?” tanyanya. Jawaban si kucing berupa pertanyaan, “Kamu mau kemana?”. Alice menjawab, “Aku tak tahu.” Kata si kucing selanjutnya, “Kalau begitu, tak ada bedanya.”
Tidak ada orang besar tanpa impian besar. Contoh paling sederhana adalah sosok Andrea Hirata. Lingkungan yang tidak mendukung, tidak membuatnya menyerah. Salah satu impian besarnya, “dapat berkeliling dunia”. Impiannya yang besar itulah yang memotivasi untuk selalu berusaha meraih impiannya. Dia pun akhirnya berhasil.
Satu hal lagi yang perlu diingat adalah, “Jika engkau memanah arahkan busur panahmu ke bulan, jangan engkau arahkannya pada benda yang hanya beberapa lebih tinggi dari kau.” Maksudnya adalah, bercita-citalah yang tinggi. Seperti analogi busur tadi, kalaupun busur kita tidak menancap bulan, tetapi pasti ketinggiannya jauh lebih tinggi dari pada kita hanya mengarahkan busur itu ke benda sekeliling kita. Dengan demikian, kalaupun tidak berhasil meraih impian itu, pastilah kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar daripada kita hanya mempunyai impian yang kecil.
Ketiga, bagaimana bisa dikatakn membaca buku itu tidak penting, padahal dengan membaca kita bisa lebih bijaksana. Bagaimana kita bisa mendapat ilmu yang lebih luas, padahal orang-orang menyalurkan dan membagikan ilmunya lewat buku. Bagaimanapun, membaca buku bagi seorang intelektual sudah menjadi kebutuhan pokok. Tidak lagi sebatas hobi. Bayangkan, bagaimana rasanya tidak makan dan minum selama beberapa hari? Rasa itulah yang muncul dari seorang intelektual ketika ia tidak membaca buku.
Apakah mereka yang anti membaca ingin kembali ke zaman pra sejarah? Masa dimana belum dikenal bacaan dan tulisan.
Sosialisasi kepada lingkungan sekitar adalah penting sebagai bentuk partisipasi kita dalam menyampaikan inspirasi-inspiarasi yang berguna untuk transformasi sosial. Tetapi sosialisasi menjadi tidak penting dan bahkan wajib dihindari ketika itu dijadikan alat legitimasi kita untuk menyalurkan “bakat kemalasan”.
Keempat, kita sering disuruh untuk berpikir kritis, walaupun pemilkiran kritis itulah sebenarnya yang perlu menjadi objek kritisi. Mudah sekali orang untuk mencela, menjatuhkan, dan membredel suatu sikap dan pemikiran seseorang. Tetapi bagaimana sukarnya untuk mengajukan ide-ide baru yang cemerlang sebagai penjawab masalah yang dihadapi. Tampaknya itupun juga terjadi di sekitar kita. Kritik-kritik sampah yang dilontarkan kepada mereka yang dianggap salah menurut versi mereka (baginya selain dia, salah), sama sekali tidak ada manfaatnya.
Kritis yang baik adalah kritis konstruktif. Dimana ia meletakkan “penyempurnaan dari yang ada” sebagai spiritrnya. Jangan sekali-kali mengkritisi suatu masalah dari persepsi sempit penderitaan pribadi. Karena biasanya, kritikus pemula adalah mereka yang iri atau dengki dengan kemapanan seseorang yang dianggap mengancam eksistensi mereka.
Ada beberapa dada yang sesak membaca ini. Mereka itulah yang patut dijuluki agen ketidakjelasan. Tetapi bahagialah, karena itu tanda bahwa mereka mengenali keharusan untuk mengintropeksi diri.
Saudara-saudaraku! Tetaplah melatih dan menekuni bidang yang kita inginkan, kendati disindir “Kamu tidak memiliki bakat dan kemampuan untuk itu.” Milikilah impian yang besar, tancapkan tujuan; walaupun dikatakan “Kamu pasti akan gagal mencapainya.” Teruslah membaca buku, walaupun dicerca “itu lho orang yang tidak pernah bersosialisasi.” Jangan rapuh atas pendirian dan cara berpikir yang kita miliki, selama kita mampu menyempurnakan dikala diperlukan; walaupun dikatakan, “Ha ha ha, orang aneh.”
Dari berbagai sumber.
Penulis dapat dikunjungi di http://alhikmah9.wordpress.com

waktu adalah misteri hidup kita. ia bagaikan pisau bermata dua, yang memberikan kebaikan dan keburukan. so, you have to make your time to give you what’s a better for your self. don’t leave your time without a well something. let’s we use our time for change our self become well for Allah swt, parents, friend, girl friend, our country and our sobat.