DPD: Mewakili yang Tak Terwakili*

•March 4, 2009 • Leave a Comment

Oleh: Muh. Ghufron Mustaqim

(Siswa MA Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta

Latar Belakang Berdirinya DPD

Pembentukan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dilakukan melalui perubahan ketiga UUD 1945 pada bulan November 2001. Dengan dibentuknya satu lagi lembaga tinggi negara ini (DPD), berarti sistem perwakilan dan parlemen berubah dari sistem satu kamar (unikameral) menjadi dua kamar (bikameral). Juga dengan dibentuknya lembaga ini, berarti Indonesia mengawali babak baru demokratisasi.

Kehadiran DPD ini seiring dengan bergulirnya pelaksanaan desentralisasi versi UU 22/1999. Momen ini dikenal sebagai awal Era Otonomi Daerah versi reformasi. Pendirian DPD ini sejalan dengan kebutuhan peningkatan kapasitas partisipasi daerah dalam kehidupan nasional. DPD juga dimaksudkan untuk digunakan sebagai kanal baru penyampaian aspirasi masyarakat. Diharapkan dengan adanya lembaga ini, partisipasi publik semakin luas.

DPD merupakan salah satu dari dua komponen di parlemen. Perwakilan populasi termanifestasi pada calon-calon yang berasal dari partai politik (parpol) yang akan duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan perwakilan kewilayahan yang termanifestasi pada calon-calon independen perseorangan yang akan duduk di DPD; adalah dua kompenen tersebut.

Pada hakekatnya, DPD merupakan perangkat kenegaraan yang menyeimbangkan peran dan fungsi DPR—yang pasca Amandemen UUD 1945 terlalu bebas dan totalitarian. Bahwa perwakilan populasi harus diimbangi dengan perwakilan wilayah.

DPD di Mata Rakyat

DPD sebagai kanal baru untuk penyampaian aspirasi oleh rakyat kepada pemerintah, seyogyanya kehadirannya di parlemen merepresentasikan kepentingan rakyat. Sehingga kehadiran DPD dalam lembaga legislatif di negeri ini, dapat membuka harapan baru penyampaian aspirasi.

Anggota DPD yang bukan tangan panjang dari partai politik sangat diharapkan keberpihakannya pada rakyat. Ini berbeda dengan DPR yang terkomposisi dari kader-kader partai politik. Sehingga kadang-kadang (atau bahkan sering), kehadirannya di parlemen bukan untuk merepresentasikan aspirasi rakyat atau konstituen yang mempercayainya. DPR cenderung mementingkan urusan yang sifatnya politis daripada yang substantif. Sehingga dapat dikatakan, rakyat di sini bukan lagi menjadi bagian terpenting. Dan DPR tampaknya sudah beralih fungsi menjadi Dewan Perwakilan Parpol. Di sinilah harapan kepada DPD tumbuh untuk menjadi lembaga pengecek dan penyeimbang daripada DPR.

Rakyat adalah bagian terpenting yang tak boleh terlupakan oleh DPD. Karena tanpa rakyat, DPD (sebagai penyalur aspirasi rakyat) praktis tidak punya pekerjaan. Namun kemudian pertanyaannya, “Apakah rakyat sudah mengerti apa hak dan kewajiban DPD?” Jujur kita melihat bahwa rakyat yang mengerti akan hal ini tergolong sedikit. Memang kita melihat bahwa pendidikan politik di Indonesia ini sangat kurang, disebabkan selama berpuluh-puluh tahun rakyat berada di bawah pemerintahan tirani—yang tak pernah mau berkompromi dengan aspirasi rakyat. Tapi kita juga harus ingat bahwa keadaan ini tidak akan berubah kalau DPD membiarkan begitu saja adanya. DPD yang juga sebagai aktor pendidikan politik harus mampu mendidik rakyat dengan cara memperkenalkan dirinya sebagai wadah dan saluran baru aspirasi rakyat. Ini merupakan hal yang sangat fundamental. Bagaimana mungkin DPD dapat bekerja dengan baik apabila rakyat—sebagai sumber aspirasi, tidak mengerti (bahkan mengenalpun tidak) akan DPD? Oleh karena itu, DPD harus mensosialisasikan keberadaannya. Agar di mata rakyat, DPD lebih dapat dipandang (no longer ghaib).

Mengapa DPD Dibutuhkan

Lahirnya demokrasi menuntut adanya partisipasi rakyat yang luas. Partisipasi rakyat akan terwadahi dengan adanya lembaga pemerintah yang khusus untuk dijadikan media penyampaian aspirasi rakyat. Di Indonesia, lembaga itu adalah DPR dan DPD. Keduanya merupakan lembaga tinggi negara di mana representasi aspirasi dan kepentingan rakyat diakomodasi di situ.

Indonesia, di tengah kemajemukan rakyatnya—beragam etnis dan golongan, sangat memerlukan lembaga yang dapat memperjuangkan kepentingan masing-masing. Dan DPD di sini mengambil peranan yang cukup signifikan.

Sejauh ini, peran DPD dalam mengakomodasi aspirasi belum maksimal. Ini bukan saja karena rakyat belum mengenal dan mengerti DPD maupun karena kewenangannya yang dibatasi oleh undang-undang. Tetapi hal ini juga dikarenakan kurang proaktif dan kreatifnya DPD dalam mengakomodasi aspirasi rakyat. Selain harus terus mengupayakan amandemen pasal 22D UUD 1945 yang sangat membatasi kewenangan DPD, tugas DPD adalah membuktikan kepada rakyat dan pemerintah bahwa DPD merupakan bagian yang sangat vital di Indonesia ini. Keterbatasan wewenang seharusnya tidak dijadikan alasan murahan untuk melegitimasi sedikit upaya dalam melaksanakan tugasnya. Dengan menunjukkan bahwa DPD merupakan lembaga yang tak bisa diremehkan, maka lebih besar kemungkinan DPR akan membantu mengamandemen pasal 22D UUD. Sehingga, DPD di sini mendapat keuntungan karena undang-undang telah mengizinkanya untuk memainkan peranan di lapangan yang lebih luas.

Selanjutnya, tugas DPD adalah ‘mewakili rakyat yang tak terwakili.’

Ketika Pemilu mendekati waktunya, setiap Parpol dan para calon DPR, masing-masing mengusung dan menawarkan janji-janji mulia. Mereka menjanjikan keuntungan. Dan dimasa-masa kampanye ini seolah-olah mereka sangat prorakyat—terutama wong cilik. Rakyat pun kemudian memilih partai dan calon DPR yang ’kayaknya’ benar-benar menjanjikan—tanpa berpikir logis tentang kemungkinan yang nantinya akan terjadi. Hal seperti ini wajar terjadi pada rakyat Indonesia. Sebagian mereka adalah golongan yang gumunan (mudah terpukau) dan pingin serba enak nan instan. Namun, kisah apa yang terjadi selanjutnya?

Rakyat gigit jari, mereka menjadi korban penipuan besar-besaran. Ternyata Partai dan DPR yang terpilih tidak work the promises. Padahal ketika kampanye, tanpa malu, mereka (Partai dan Calon DPR) banyak promise the works. Kenapa ini terjadi? Untuk para anggota DPR, akan sulit melaksanakan janjinya karena mereka terbentur kepentingan partai. Sehingga kepentingan konstituen yang ingin disampaikan harus sesuai dengan kepentingan partai. Sulit sekali menemukan anggota DPR yang tetap melaksanakan janjinya ketika kepentingan yang diperjuangkan tidak sesuai dengan kepentingan partai. Hal ini karena konsekuensinya besar, kehilangan jabatan di DPR.

Sedangkan untuk kasus partai akan sulit melaksanakan janji-janjinya karena ribet dengan urusan-urusan koalisi. Sehingga harapan besar konstituen kepadanya digadaikan begitu saja karena harus berkompromi dengan misi partai lain—yang dijadikan koalisi. Hal ini dilakukan untuk menjaring kekuatan menuju tangga kekuasaan dan kebanggaan. Jelas, hal ini orientasinya bukan untuk kepentingan rakyat.

Melihat fakta di atas, siapa lagi yang bertanggung jawab mewakili kalau bukan DPD—sebagai penguasa kamar lain dalam sistem bikameral parlemen. DPD yang hakekatnya bukan dari kader Parpol—karena merupakan calon independen perseorangan, tidak akan banyak menemui masalah dalam melaksanakan tugas dan janjinya—menjaring aspirasi rakyat. Setidaknya tidak serentan seperti yang terjadi di DPR dan Parpol.

Demi memaksimalkan peranannya, maka para anggota DPD wajib menyadari bahwa tugas mereka adalah “mewakili yang tak terwakili.” Di pundak DPD-lah harapan rakyat tertumpu ketika pundak lain diamputasi karena tercederai oleh kepentingan irrasional.()

Daftar Bacaan

”Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Rumah Aspirasi”, http://muradi.wordpress.com/2007/01/06/dewan-perwakilan-daerah-dpd-dan-rumah-aspirasi/

”Menyoroti Eksistensi DPD”, http://www.jpip.or.id/articles/view/91

”Peran Ideal DPD”, http://muradi.wordpress.com/2008/01/10/peran-ideal-dpd/

”Tanpa Peningkatan Peran, DPD Seperti LSM”, http://www.berpolitik.com/static/internal/2007/01/news_911.html

*Ditulis untuk mengikuti lomba penulisan oponi di Hafidh Asrom Center

Refleksi dan Agenda Umat Islam

•January 8, 2009 • 1 Comment

Oleh: Muh. Ghufron Mustaqim

Pengamat Perkembangan Peradaban Islam


Prolog


Kemajuan peradaban umat Islam adalah satu hal yang kita inginkan bersama. Tetapi tampaknya, kita harus berani melihat dengan jujur akan kekurangan-kekurangan umat Islam yang menyebabkan peradaban Islam tak berdaya jika dibandingkan dengan peradaban lain, sebut saja peradaban Barat. Tentunya ini bukan karena agama Islamnya yang salah, tetapi karena pemeluknya yang tidak mau mengamalkan ajaran Islam seluruhnya. Yang akhirnya malah diamalkan oleh orang lain—orang Barat.

Misalnya saja yang kita lihat di Indonesia. Umat Islam yang jumlahnya mayoritas hampir identik dengan “kaum pinggiran” alias miskin. Padahal Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi orang kaya dan zuhud. Islam juga mengajarkan agar kehidupan akhirat diraih dengan dunia (harta benda). Kemiskinan yang melanda umat Islam ini, disebabkan minimnya penguasaan ilmu pengetahuan. Budaya baca yang menjadi kunci penguasaan ilmu pengetahuan mulai sudah hilang dari kaum Muslim.

Secara global pemeluk Islam hampir seperempat penduduk dunia yaitu 22%, tetapi sumbangan dunia Islam terhadap perekonomian global hanyalah 5%. Lain halnya dengan laporan majalah Forbes yang melaporkan bahwa dari 500 orang terkaya di dunia, baru satu orang dari umat Islam. Inilah satu indikasi bahwa umat Islam mengalami keterpurukan, setidaknya dari segi ekonomi.

Keterpurukan mulai melanda umat Islam dalam beberapa abad terakhir karena ada sesuatu yang diabaikan oleh umat Islam, yaitu tidak bersungguh-sungguh dalam belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Kalau kita amati dengan seksama, kita akan menemukan adanya perubahan dalam memahami hakikat ajaran Islam. Sebagai contoh, perhatian yang begitu besar terhadap kehidupan akhirat membuat umat Islam enggan untuk lebih kreatif di dunia, hanya menyibukkan diri dengan berzikir. Padahal Islam tidak mengajarkan meninggalkan kehidupan dunia demi kehidupan akhirat. Begitu juga sebaliknya, meninggal kehidupan akhirat demi kehidupan dunia. Islam mengajarkan umatnya untuk membangun keseimbangan di antara dua dunia. Artinya, umat Islam harus mengejar kebahagian dunia dan akhirat. Oleh karena itu, konsep tawadhu dan zuhud dijadikan penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat. Kita perlu mencari solusi bagaimana menghilangkan pandangan-pandangan yang menyimpang dari pemahaman ajaran Islam yang benar ini. Tanpa menghilangkan pemahaman yang salah ini, umat Islam tidak akan pernah maju. Mereka akan selalu menjadi penonton. Memberi pemahaman yang benar ini adalah tugas kita semua.

Kita lihat saja kehidupan umat Islam pada zaman Rasulullah. Sebagian besar mereka kaya, tapi orientasi hidupnya tidak melulu tertuju pada menumpuk kekayaan. Harta mereka jadikan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai tujuan hidup. Jabatan, mereka jadikan alat pengabdian kepada Allah. Misalnya dengan membuat keputusan yang terbaik dan menguntung umat, Sikap hidup inilah yang menyebabkan Nabi dan para sahabat sukses membuat Islam kuat dan menarik perhatian masyarakat banyak. Tetapi ada satu hal yang ditakutkan oleh Nabi Muhammad Saw, yaitu umat Islam seperti anjing yang rakus tidak peduli dengan kaum lemah dan akhirnya mereka lupa beribadah kepada Tuhan serta menjadikan umat yang tidak pandai mensyukuri nikmat Allah. Ketakutan akan hal ini membuat para sufi memahami zuhud dengan sangat ekstrem; menjauhi urusan dunia sama sekali.

Paham zuhud muncul karena banyak orang-orang kaya yang terlena dengan kekayaannya sehingga mereka melupakan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah. Ini bukan berarti setiap orang kaya akan terjerumus dalam kemaksiatan dan melupakan tugasnya sebagai seorang hamba Allah. Konsep zuhud adalah pengekang dan pengingat agar manusia tidak melupakan kewajibannya terhadap Allah dan manusia lainnya. Memang kekayaan dapat menjerumuskan seseorang. Nah, di sinilah peran penting zuhud sebagai rem. Tidak hanya kekayaan yang menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan, kemiskinan juga bisa menjerumuskan manusia. Ingat sabda Nabi yang mengatakan bahwa “kadang-kadang kemiskinan membawa kekufuran”. Antara kemiskinan dan kekayaan sama-sama mempunyai sisi negatif.

Ada beberapa hal yang hanya dapat dikerjakan orang kaya, tapi tidak bisa dikerjakan oleh miskin. Contohnya, orang-orang miskin sering bangga dengan zikir yang telah dilakukannya siang dan malam, kemudian orang miskin juga sering bangga dengan salat malam yang telah dikerjakannya. Dalam hal ini orang-orang kaya juga dapat melakukan apa-apa yang telah dikerjakan oleh miskin, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang miskin yaitu masalah zakat, infaq dan sedekah. Lalu kenapa kita takut kaya jika yang dikerjakan orang miskin bisa dikerjakan orang kaya, tapi tidak sebaliknya.

Paradigma Umat Islam

Alasan yang sering digunakan sebagai dalih untuk tidak maju adalah, Allah sengaja memberikan kesenangan dunia kepada mereka—non muslim, sebab jika mereka terus kafir, maka mereka akan dibalas di neraka. Sebenarnya bagus juga kalau kita tidak terlalu pandai atau kaya, karena kita bisa terlena dunia nantinya. Allah tidak membagi semua kesenangan di dunia, sebab kita sebagai orang Muslim akan mendapatkan balasannya di akhirat. Jadi jangan kecewa kalau gagal. Kalau Allah tidak memberikan sekarang, Insya Allah balasannya di surga. Pemikiran seperti inilah yang menyebabkan umat Islam semakin mundur. Harusnya umat Islam mampu menggapai kejayaan di dunia dan di akhirat juga. Harusnya kita berkata Orang kafir pandai, kaya raya sebab mereka berusaha bersungguh-sungguh. Allah berkata, siapa yang berusaha maka akan berhasil. Tetapi Allah tidak sayang orang kaya. Allah sayang orang yang baik. Makanya kalau mau disayang Allah, jadilah orang baik. Kalau mau lebih disayang Allah, jadilah orang baik dan kaya sekaligus, supaya bisa menolong orang lain juga.Yang terakhir inilah paradigma yang perlu kita bangun.

Ada hal menarik dari fenomena umat Islam, Kebanyakan orang Islam mengimani dan menginginkan akhirat, sehingga mereka tidak bersungguh-sungguh memakmurkan dunia. Apabila mereka mengimani Tuhan, mereka tidak bersungguh-sungguh berbuat baik kepada manusia.Hal ini bisa kita contohkan dengan bagaimana umat Islam kurang peduli dengan lingkungan dan kebersihan. Karena bagi sebagian kita, itu bukan hal penting.

Hubungan Peradaban Islam dengan Barat

Selanjutnya, hal yang juga perlu diketahui adalah, bagaimana sebenarnya hubungan antara Peradaban Islam dengan Peradaban Barat. Ini penting kaitannya dengan sebab-sebab kemunduran peradaban Islam.

Naquib Al-Attas, seorang pemikir Islam kelahiran Bogor Jawa Barat mengungkapkan, bahwa antara peradaban Barat dan peradaban Islam akan terjadi apa yang ia sebut sebagai satu “permanent confrontation” (konfrontasi permanen). Bahwa konfrontasi antara peradaban Barat dengan Islam telah bergerak dari level sejarah keagamaan dan militer ke level intelektual; dan bahwasanya, konfrontasi itu secara histories bersifat permanent. Islam dipandang Barat sebagai tantangan terhadap prinsip yang paling asasi dari pandangan hidup Barat. Islam bukan hanya tantangan bagi Kekristenan Barat tetapi juga prinsip-prinsip Aristotellianisme dan epistemologi serta dasar-dasar filosofi yang diwarisi dari pemikiran Greek-Romawi. Karena itulah, orang-orang Barat berupaya meruntuhkan Islam dengan menyerang pemikiran-pemikiran murni Islam. Pada saat ini, Barat telah berhasil memenangkan perang media; mempropagandakan dan memprovokasi perpecahan umat Islam. Walaupun demikian, Barat tidak bisa memenangkan sepenuhnya pemikiran Islam. Even if they’ve won the battle of media, they couldn’t win the battle of thoughts.

Aksi Kita

Menurut statistik Rabithah al ‘alam al-Islami (Liga Islam Dunia) secara global pemeluk Islam di dunia sekarang ini sekitar 1,3 milyar. Islam menjadi agama terbesar di dunia ini semenjak agama Katolik dan Protestan berpisah, maka masing-masing mencapai 1,2 milyar. Dan ada gejala peningkatan yang cukup signifikan bahwa Islam semakin diminati di negara-negara yang mayoritas bukan Islam, seperti Amerika, Eropa dan Australia. Ini adalah modal besar yang sangat berharga bagi peradaban Islam untuk kembali mengukirkan tinta emas.

Kita telah melihat kelemahan-kelemahan umat Islam–keterpurukannya. Tiada jalan lain kecuali harus bangkit, memperkuat barisan, melakukan konsolidasi diri terhadap tantangan dan ancaman yang ada di depan mata. Kita tidak boleh menghadapi semua itu dengan kesedihan dan kehilangan kepercayaan diri. Allah SWT manyatakan dalam Al Quran surat Ali Imran 139 yang maknanya: “Kamu wahai semua umat Islam jangan bersedih hati jangan kehilangan kepercayaan diri, karena sungguh kamu adalah umat pilihan yang memiliki kekuatan dan kelebihan jika kamu semua menjadi orang-orang yang beriman”. Inilah bekal dari Al Quran agar umat Islam jangan kehilangan kepercayaan diri. Jangan berlarut-larut dalam duka dan nestapa, jangan berlarut-larut dalam kesedihan.

Surat Al Anfal 60 yang maknanya: “Persiapkanlah segala daya, persiapkanlah segala upaya, rancang strategi, rapatkan barisan, untuk menghadapi segala tantangan yang ada di hadapan kita.”. Kita harus melakukan langkah-langkah kongkrit, harus melakukan langkah-langkah nyata, harus mempersiapkan diri dengan strategi perjuangan yang jelas dan jitu.

Epilog

Dunia ini berputar, kadang kita berada di atas dan kadang pula kita berada di bawah. Kadang peradaban Islam maju, dan kadang peradaban lain yang maju, seperti yang telah diterangkan dalam firman Allah Swt, “…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) (QS Ali Imran [3]: 140). Tetapi yang perlu diingat adalah, tidak ada kemajuan tanpa perubahan, dan tidak ada perubahan tanpa usaha. Kitalah—umat Islam, determinan pokok maju-mundurnya peradaban Islam. Tidak ada kata tidak mungkin untuk membangkitkan peradaban Islam.

Di Indonesia, usia produktif antara 18-40 tahun adalah presentase yang tertinggi di dunia. Dari usia tersebut 88% beragama Islam. Jika mereka dapat bersatu-bekerjasama bangkit dan membenahi kelemahan umat Islam di Indonesia, maka hal ini akan berkontribusi banyak terhadap perkembangan peradaban Islam dunia. Ini adalah kekuatan besar yang sangat diperhitungkan dan bahkan ditakuti oleh Peradaban Barat.

Pada akhirnya, karena peradaban itu bukan hanya terletak pada sisi material (dzhiri), namun juga merangkum aspek-aspek spiritual, maka selain melaksanakan hal-hal positif yang sudah dipraktekkan oleh Peradaban Barat itu seperti kerja keras, disiplin waktu, dan rajin menuntut ilmu, tidak lupa kita harus menerapkan aqidah yang betul dan syariah Islam secara keseluruhan, jadilah kita umat yang terbaik di muka bumi seperti yang Allah janjikan.□

Referensi dan Bacaan

Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat. GIP Jakarta: Jakarta.

“Dengan Iptek, Umat Islam akan Kaya dan Maju” http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A1926_0_3_0_M

“Maju Mundurnya Umat Islam”, http://tribun-timur.com/view.php?id=110631&jenis=Opini

“Written by Prof. Dr. S.M. Naquib al-Attas” http://www.acehforum.or.id/written-prof-dr-t2971.html?s=24710155b9ff72fa8fe5d1113f539a7e&

Unrecognised Files

“Bagaimana Umat Islam Bisa Maju?” by wiemasen.

Mengapa Minder terhadap Barat? Adian Husaini,MA

Peradaban Barat Dan Timur.” Alfina Hidayah

“Saatnya Bangkit.”




© Caliphate Publication

The Writer has a Strong Contribution on Upholding Caliphate
for more information on copyright please refer to: http://www.alhikmah9.wordpress.com/

Meneladani Budaya Jepang dengan Mempelajari Bahasanya

•January 1, 2009 • 1 Comment

Oleh: Muh. Ghufron Mustaqim

(Siswa MA Mu’allimin Muhammadiyah Yk.)

Artikel ini ditulis untuk mengikuti lomba Karya Tulis UTY

Bukan tanpa alasan mengapa banyak orang di dunia, khususnya di Indonesia, berminat mempelajari Bahasa Jepang. Kebudayaan Jepang yang istimewa adalah nilai lebih yang mampu menarik minat banyak orang untuk lebih mengenal Jepang, salah satunya dengan mempelajari bahasanya.

Kebudayaan Jepang selalu dicirikan dengan budaya semangat kerja yang tinggi. Dalam dunia kerja, walaupun gaji yang diterima rata-rata, tetapi para pekerja tetap memiliki komitmen untuk bekerja keras. Ini dikarenakan mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai Abdi Negara.

Ada setidaknya enam sikap positif yang tercermin dari keseharian masyarakat Jepang. Pertama, jujur. Kejujuran merupakan modal untuk membangun sistem yang baik, karena sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien. Tidak hanya dalam sistem birokrasi, tetapi nilai kejujuran juga benar-benar tertanam dalam sikap masyarakatnya, seperti terlihat dari para penjual Jepang yang selalu memberikan penjelasan apa adanya mengenai kualitas barang jualannya kepada calon pembeli. Kedua, saling percaya. Pada masyarakat Jepang, sulit ditemukan perilaku saling mencurigai. Mereka percaya satu sama lain karena mereka memahami bahwa esensi dari hubungan yang baik diperoleh dari sikap saling percaya. Ketiga, mengutamakan pelayanan. Take and give atau mengambil dulu baru kemudian memberikan sangat tidak populer. Dalam penjualan barang atau jasa misalnya, pelayanan adalah hal terutama.Konsumen ditempatkan pada posisi penting. Kepuasan konsumennyalah yang menjadi tolak ukur seberapa baik pelayanan. Mereka percaya keuntungan besar didapat setelah memberi pelayanan yang baik. Keempat, well-prepared. Hampir pasti dalam bekerja mereka telah benar-benar mempersiapkan apa yang akan dilakukan dan menetapkan tujuan apa yang ingin dicapai. Dengan teliti, masyarakat Jepang mengonsep segala aktivitas mereka untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Kelima, tanggungjawab. Kesalahan kecil dalam bekerja–yang mungkin tidak diketahui orang lain, bagi mereka sangat memalukan. Mereka takut dianggap sebagai orang yang tidak bertanggungjawab. Keenam, disiplin. Sikap disiplin para pekerja misalnya, mereka tidak hanya datang tepat waktu dan pulang setelah jam kerja selesai, tetapi mereka bekerja ekstra waktu walaupun tidak ada tembahan gaji. Mengagumkan bukan?

Pada saat ini, tentunya akan sangat bermanfaat apabila masyarakat Indonesia mempelajari budaya Jepang. Kondisi dan perilaku sosial mayoritas masyarakat kita yang belum begitu baik–bahkan buruk, menjadi alasan mengapa belajar dari budaya Jepang sangat mendesak. Sikap-sikap positif yang telah membudaya di Jepang, hanya dipraktekkan oleh sedikit orang dari masyarakat kita. Apa artinya? Artinya adalah kita belum memiliki budaya bersikap positif. Karena sesuatu dianggap telah membudaya ketika suatu sikap telah dipraktekkan secara kolektif oleh masyarakat. Dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun.

Marilah dengan jujur, kita melihat kondisi masyarakat kita. Apakah sikap jujur telah membudaya, sedangkan masih banyak pelajar yang mencontek ketika ujian? Bagaimana dapat dikatakan sikap saling percaya dapat diaplikasikan, ketika banyak orang yang diberi kepercayaan (baca: pejabat pemerintah) malah mengingkarinya (baca: korupsi)? Apakah sikap mengutamakan pelayanan telah ada, sedangkan kita hampir selalu mendapati di nota-nota toko tulisan, “Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan”? Apakah sikap well-prepared telah tertanam, padahal banyak guru yang tak peduli tentang apa yang akan disampaikan di kelas esok hari? Apakah sudah dikatakan bertanggungjawab, ketika kita sering melihat orang buang sampah sembarangan? Apakah ini yang dikatakan budaya disiplin sedangkan masih saja ada PNS, tanpa alasan yang bisa dimengerti, keluar kantor pada jam kerja?

Kita ditawari dua pilihan, mempelajari budaya lain untuk mendapatkan inspirasi-inspirasi berharga, atau membiarkan budaya kita begini saja adanya? Jawaban yang tepat sudah jelas, yaitu mempelajari budaya lain untuk memperoleh inspirasi nilai-nilai positif yang dapat diterapkan ke dalam budaya kita. Dengan mempelajari budaya, pastinya kita akan dapat setidaknya menyadari dan mengevaluasi budaya kita yang menjenuhkan ini.

Lalu, apa kaitannya antara bahasa dengan budaya? Menurut Winarso D. Widodo, selain memiliki fungsi utama sebagai wahana berkomunikasi, bahasa juga memiliki peran sebagai alat ekspresi budaya yang mencerminkan bangsa penuturnya. Bahasa akan selalu mencerminkan budaya bangsa, karena bahasa termasuk produk budaya. Oleh karena itulah, hubungan antara bahasa dengan budaya sangat erat.

Ketika belajar budaya Jepang, akan ada waktu dimana seseorang harus mempelajari bahasanya. Dan sebaliknya, ketika belajar bahasa Jepang, akan ada waktu dimana orang tersebut harus mengenal budayanya. Karena ketika berbicara mengenai bahasa, kita juga berbicara mengenai budaya. Artinya, antara satu dengan yang lain saling melengkapi dan mendukung.

Akan sangat luar biasa apabila masyarakat Indonesia, khususnya para pelajar dan mahasiswa, mempalajari bahasa Jepang. Selain mereka akan diuntungkan dengan keahlian bahasa baru mereka, lebih dari itu, mereka juga akan belajar dari masyarakat Jepang mengenai kebudayaannya yang dalam banyak hal, luar biasa istimewa.

Yang pasti, memiliki keahlian dalam bidang apapun tidak ada yang tidak bermanfaat. Apalagi ahli dalam bidang Bahasa dan Budaya Jepang. Akhirnya, apa yang kita teladani dari mereka adalah sikap yang harus segera kita miliki. Kalau kita ingin memiliki negara yang baik, syarat utamanya adalah membudayakan sikap yang baik. Kalau mereka masyarakat Jepang–yang juga manusia, bisa, masyarakat kita pun seharusnya bisa.

Sumber Bacaan

Bahasa yang Dilecehkan Bangsa”, http://denggleng.wordpress.com/2008/10/27/bahasa-yang-dilecehkan-bangsa/

“Etos Kerja Orang Jepang”, http://wwwsound0flife.blogspot.com/2008/07/etos-kerja-orang-jepang.html

“Mahasiswa FSB UTY Diundang Studi ke Jepang”, http://www.uty.ac.id/simulate/content/berita.php?nid=23

“Sudahkah Bahasa Kita Mencerminkan Budaya Kita?”, http://netsains.com/2007/11/sudahkah-bahasa-kita-mencerminkan-budaya-kita/

What conflicts mean in an organization

•November 22, 2008 • Leave a Comment

Ghufron Mustaqim ,  Yogyakarta   |  Kuntum | Tue, 11/19/2008 11:01 AM  |  e4u

Well, it is definitely important to have an organization as a place of informal education. Within an organization we can learn something we cannot learn from the class. We are taught to solve the problems, communicate and cooperate with various cultural backgrounds partners, and much more. We may also call that organization is a miniature on how we can conduct such governance as regulating, punishing, and justifying for its entire manner. From this simple illustration we might conclude that organization is remarkable institutions. But in another hand, organization is well-known as full conflicts institutions. Some people say that conflicts within an organization are taken for granted.

What we see in IPM, as many other organizations, in spite of his platforms as an organization under non pragmatic-political flag, it will not be able to avoid any conflicts. We have to open our eyes, for instance, when we conduct general leader election in PP IPM, PW IPM, or even in PD IPM, there must be a conflict. Whether a little or a very big conflict.

A conflict is not always disgraceful. Some people believe with a manageable conflict, it does indicate there is an intention to take care about organization among its members. A conflict in electing general leader might be meant as in search of strong leader. That’s why, in positive thought, we recognize any conflicts in IPM should be the reminder that conflict is spices of organization.

In more general, taking a part in organization field is recommendable. When a person expired his or her time in positive doing, the negative one will be minimized. There are many ways to do positive doing, one of these by joining in organization. It is far better than just stay alone, doing nothing, and usually will affect to do negative action.

Let’s land back on IPM from the orbit of Planet Conflict.

IPM as a student organization has an important role to produce critical and constructive-thought students. In addition, it has been proven that many former activists in this organization become well-oriented people who can undoubtedly participate in Indonesia development. They sincerely gave their ability by joining in many NGOs, volunteer, or even turning to be politician.

It was a kind of products organization. It was an advantage by joining in organization. We grew up in conflicts, and conflicts growing us up. A good person is someone who wisely captures the conflicts as recognition.

The writer can be reached at http://alhikmah9.wordpress.com

Youth Generation of Indonesia

•November 14, 2008 • Leave a Comment

Ghufron Mustaqim | Wed, 11/12/2008 7:02 AM  |  Opinion

What we get right now from most of Indonesian teenagers that they don’t have any contribution to fill up our liberty, to continue the struggle for upholding the sovereignity that was done by those who sacrifice their life and their wealth, they are our grandfathers and grandmothers—Indonesian heroes. We are as a part of their countryman completely regret this circumstance.

There is no hope, there is no purpose, and there is no aim. They have experienced disorientation and finally completely lost the direction, indeterminate in steping forward. This is happening because the sad factors: marijuana, narcotics, crisis of values, or many other factors actually become the basic problems in which those teenagers don’t have any capability and capacity to run in a recent life or even in the future.

The point of interesting to be pointed out is the teenagers who have being educated as students in such schools or universities, however in a big number experiences idiology erotion. They change their direction onto pragmatically games and in a narrow-minded view point. We need to realise on what should be done as soon as we could.

I’d like to devide my explanation into there levels of explanation. First, I’ll go with question what the nature of youth generation is. Second, reorientation and reconstruction agenda. And the third, the urgency action to do.

First of all,we can state that youth generation is in strategic position to seek a nation developer and be better. Youth people hold a central actor to determine the step of a nation. They are next generation which will continue handling the highest authority in a nation. They will gradually step up in the governance. They will replace every important position in every level. For these ilustrations we can conclude that life and death of a nation in the future is in their hands. When a country has a good quality of its youth generation, automati-cally its future would be well. But otherwise, when a country doesn’t have a good quality of its youth generation, consequently its future would not be well-guaranted.

Second of all, the reason why we need to do reorientation and reconstruction for our teenagers because of their crisis of values. Hipotetically we can see many problem indicators of Indonesian teenagers. Those are like unemployement which some of its ascort to criminal. Besides, many teenagers consumpt the narcotics which actually bring many bad impact. But, the most influenced is the changing of their way of thinking into pragmatic principle. Those problems must be the cause of values crisis. So as why, we need to reconstruct and reorient their quality.

We have the clear purposes for this agenda. First, we want to make them aware of the importance of good conduct teenagers. It is because they are the first holder of relay race after regenaration proces. That’s why we had better to prepare their quality in order to be ready when achieving responsibility. Second, make their direction and their personality natured after distorting into something destructif. Third, to achieve the teenagers who responsive and creative toward objectif alteration and clear in taking steps.

However, actually the effort not only upon youth people side but also from the goverment and the parents’. But I’m writing as a youth here. So it’s apropriate for me to take teenager view point and what I’m telling to you is what should be done by youth people.

Firstly, we have to learn on how difficult to get a sovereignity. It takes a long time with blood and tears. It needed good cooperation among the people. By learning this, I believe that our youth will concious on how they should take a role to this nation. Secondly, insist our friends to not waste of time by doing something useless which is not future oriented. Thirdly, say no to drugs. Don’t sacrifice our ability of thingking big by consuming this. Besides those, there are many other efforts that can be done. We hope Indonesia is growing better, and we have a big role and responsibility.

The writer can be reached at selamatkanindinseiakita@gmail.com

Change Our Paradigm

•November 14, 2008 • Leave a Comment

Ghufron Mustaqim | Wed, 11/12/2008 7:02 AM  |  Editorial

It seems easy to see many our people – Indonesian, dislike this nation. Their objectionable related to their opinion when we are asking: what kind of your effort to contribute to this nation? Simply, many of them say: I don’t know. In my opinion by not thinking of their nation means that they don’t care about what the nation supposed to be liked. They don’t have willingness, and the only nationalism they have is in symbolic-ID Card. This is because they don’t love their nation; try not to participate in any development.

To make this article be focused, I’d like to elaborate my exposition from the young people view point.

First of all, we have to analyze why our youth act unconcerned about Indonesia fact of having fallen behind many of our neighbors. Even if it’s complicated problem, however, we can blame Indonesia Love Serial Movie which gives far more disadvantages rather than advantages.

We will waste of much time to watch this trash program. When we carefully see the movies under love theme, we get there is repetitive in a rhythm. In addition, it is being worsened with poor creativity. The same stories with different titles same titles with different actors. It is well if those movies brought a good movie spirit in transferring good values to spectators, but unfortunately it is not.

The advantage will only for unlucky youth people whose girls friend or boys friends as everything. Will or not, in the same manner as trash values, watching these movies change our paradigm.

The paradigm of being good participator of nation development replaced and simplified by the paradigm of being stylish-fashionable person as a modal for being good (or even bad) lovers. As the result, much our youth people concealed to be a good generation to uphold this nation.

In another hand, our peoples believe in their paradigm that Indonesia as developing (or poor) country will not and cannot be able to be more developed. In their opinion, Indonesia will always in this position, neither go forward nor step backward although we have done many efforts.

This is unbeneficial paradigm if we want to change Indonesia be better. We have a large number of young people to do together for this nation. Changing those two above paradigms is the first two steps from hundreds steps to pass.

The new two emerging countries – China and India, have proven that youth people have a big role to develop their nations. They do believe with huge motivation and clear orientation everything will get done. However, their hard effort won’t be useless.

Let’s land back on Indonesia. With this evidence, we can state, if other countries can do it of course we can do it better. It depends on us, it depends on our youth people, and it depends on our paradigm. Let’s change our paradigm.

The writer can be reached at selamatkanindonesiakita@gmail.com

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.